Hoaks Kesehatan Makin Banyak di Era Digital
Hoaks Kesehatan Makin Banyak muncul di tengah derasnya arus informasi digital. Media sosial membuat informasi kesehatan dapat menyebar dalam hitungan menit. Namun, tidak semua informasi memiliki dasar ilmiah yang jelas. WHO menjelaskan bahwa banjir informasi, termasuk informasi yang salah atau menyesatkan, dapat membingungkan masyarakat dan memengaruhi perilaku kesehatan.
Karena itu, masyarakat perlu lebih teliti sebelum mempercayai sebuah klaim. Kebiasaan memeriksa sumber dapat membantu seseorang mengambil keputusan kesehatan dengan lebih aman.
Mengapa Hoaks Kesehatan Makin Banyak?
Perkembangan media sosial membuat siapa pun dapat membuat dan menyebarkan konten. Informasi kesehatan pun tidak selalu datang dari dokter, tenaga kesehatan, lembaga pemerintah, atau institusi ilmiah.
Selain itu, konten yang mengejutkan sering menarik perhatian. Judul yang membuat takut atau penasaran dapat mendorong orang untuk membuka, menyukai, dan membagikan konten.
Beberapa faktor dapat membuat informasi keliru menyebar lebih cepat, antara lain:
- Judul yang sensasional.
- Klaim kesehatan tanpa sumber jelas.
- Video pendek tanpa konteks.
- Kutipan ahli yang terpotong.
- Foto lama yang muncul kembali dengan narasi baru.
- Pengalaman pribadi yang dianggap berlaku untuk semua orang.
- Promosi produk dengan klaim kesehatan berlebihan.
WHO menyebut kondisi banjir informasi tersebut sebagai bagian dari infodemic. Situasi ini dapat membuat informasi yang benar lebih sulit ditemukan di tengah banyaknya informasi lain.
Media Sosial Mempercepat Penyebaran Informasi
Media sosial memiliki manfaat besar untuk edukasi kesehatan. Masyarakat dapat memperoleh informasi tentang penyakit, pola hidup sehat, vaksinasi, nutrisi, dan berbagai topik lainnya.
Namun, kecepatan distribusi juga membawa risiko. Sebuah klaim yang keliru dapat beredar sebelum orang sempat memeriksa kebenarannya.
WHO juga menjelaskan bahwa informasi palsu dapat menyebar dengan cepat melalui platform digital. Karena itu, kemampuan memahami dan memeriksa informasi kesehatan menjadi semakin penting.
Ciri-Ciri Hoaks Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua informasi yang salah terlihat mencurigakan. Sebagian konten justru menggunakan bahasa yang terlihat meyakinkan.
Oleh karena itu, jangan hanya melihat tampilan atau jumlah orang yang membagikan sebuah informasi.
Perhatikan beberapa ciri berikut.
1. Menggunakan Klaim yang Terlalu Mutlak
Informasi kesehatan yang mengatakan satu makanan atau produk dapat menyembuhkan semua penyakit perlu mendapat perhatian khusus.
Tubuh manusia memiliki kondisi yang berbeda. Penyebab penyakit juga dapat beragam. Karena itu, klaim kesehatan biasanya membutuhkan konteks.
Contohnya, kalimat seperti “satu bahan pasti menyembuhkan penyakit tertentu” tidak cukup untuk menjadi dasar keputusan medis.
2. Tidak Mencantumkan Sumber yang Jelas
Informasi kesehatan yang dapat dipercaya biasanya mencantumkan sumber yang dapat diperiksa.
Sumber tersebut dapat berupa:
- Institusi kesehatan.
- Rumah sakit.
- Organisasi profesi.
- Jurnal ilmiah.
- Universitas.
- Lembaga pemerintah.
- Organisasi kesehatan internasional.
Sebaliknya, informasi yang hanya mengatakan “menurut penelitian” tanpa menjelaskan penelitian tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.
3. Menggunakan Rasa Takut sebagai Pemicu
Konten kesehatan sering menggunakan rasa takut untuk menarik perhatian.
Misalnya, sebuah unggahan mengatakan bahwa kebiasaan sehari-hari tertentu pasti menyebabkan penyakit berat. Padahal, hubungan antara kebiasaan dan risiko penyakit biasanya membutuhkan penjelasan yang lebih lengkap.
Jadi, jangan langsung mengambil kesimpulan hanya dari satu unggahan.
Cara Memeriksa Informasi Kesehatan di Internet
Memeriksa informasi tidak selalu membutuhkan waktu lama. Anda dapat membuat beberapa kebiasaan sederhana sebelum mempercayai sebuah klaim.
Periksa Siapa yang Membuat Konten
Pertama, lihat identitas pembuat informasi. Apakah orang tersebut memiliki latar belakang yang relevan?
Selain itu, perhatikan apakah akun tersebut sering menjual produk dengan klaim kesehatan tertentu. Kondisi tersebut tidak otomatis membuat informasinya salah. Namun, Anda tetap perlu memeriksa sumber tambahan.
WHO juga memiliki prinsip untuk membantu masyarakat mengenali sumber informasi kesehatan yang kredibel di media sosial.
Cari Sumber Kedua
Jangan berhenti pada satu unggahan.
Cari klaim yang sama melalui beberapa sumber tepercaya. Bandingkan isi dan konteksnya.
Misalnya, ketika menemukan informasi tentang penyakit tertentu, Anda dapat mencari penjelasan dari institusi kesehatan atau organisasi medis.
Jika beberapa sumber kredibel memberikan penjelasan yang serupa, informasi tersebut memiliki konteks yang lebih kuat.
Perhatikan Tanggal Informasi
Informasi kesehatan dapat berubah seiring munculnya penelitian baru.
Karena itu, periksa tanggal artikel, video, atau unggahan. Informasi lama mungkin masih berguna, tetapi konteksnya dapat berbeda dengan kondisi saat ini.
Langkah ini juga membantu mencegah masyarakat membagikan informasi lama seolah-olah merupakan kejadian terbaru.
Baca juga: Super Flu Terdeteksi, Apa Gejalanya dan Siapa Paling Berisiko?
Hoaks Kesehatan Makin Banyak, Apa Dampaknya?
Informasi kesehatan yang keliru tidak hanya membuat orang salah memahami suatu penyakit. Informasi tersebut juga dapat memengaruhi keputusan sehari-hari.
WHO menyatakan bahwa infodemic dapat mendorong perilaku berisiko, mengurangi kepercayaan terhadap otoritas kesehatan, serta mengganggu respons kesehatan masyarakat.
Beberapa dampaknya antara lain:
Menghambat Seseorang Mencari Pertolongan
Seseorang mungkin mempercayai klaim bahwa suatu penyakit dapat sembuh sendiri dengan cara tertentu. Akibatnya, ia dapat menunda konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Padahal, beberapa kondisi membutuhkan pemeriksaan dan penanganan segera.
Mendorong Penggunaan Produk Secara Tidak Tepat
Konten tertentu dapat mempromosikan obat, suplemen, atau bahan alami dengan klaim yang berlebihan.
Masalahnya, seseorang dapat mencoba produk tersebut tanpa memahami dosis, efek samping, atau kemungkinan interaksi dengan obat lain.
Karena itu, informasi dari media sosial tidak seharusnya menggantikan konsultasi medis.
Menimbulkan Kepanikan
Hoaks juga dapat membuat masyarakat merasa takut terhadap penyakit tertentu.
Informasi tanpa konteks dapat membuat risiko terlihat jauh lebih besar daripada kondisi sebenarnya. Sebaliknya, informasi yang meremehkan suatu penyakit juga dapat membuat orang mengabaikan tindakan pencegahan.
Jangan Mudah Percaya pada Testimoni Pribadi
Testimoni sering terlihat meyakinkan karena menghadirkan pengalaman seseorang secara langsung.
Namun, pengalaman pribadi tidak sama dengan bukti ilmiah.
Seseorang mungkin merasa lebih baik setelah melakukan tindakan tertentu. Akan tetapi, perubahan tersebut belum tentu terjadi karena tindakan tersebut.
Banyak faktor lain dapat memengaruhi kondisi kesehatan, termasuk waktu, pola tidur, pola makan, aktivitas fisik, pengobatan, dan kondisi tubuh.
Oleh sebab itu, gunakan testimoni sebagai cerita pribadi, bukan sebagai bukti bahwa sebuah metode pasti berhasil untuk semua orang.
Bagaimana Jika Informasi Sudah Terlanjur Dibagikan?
Jangan panik. Kesalahan membagikan informasi dapat terjadi.
Langkah berikut dapat membantu:
- Periksa kembali sumber asli.
- Cari informasi pembanding dari sumber tepercaya.
- Hapus unggahan jika ternyata keliru.
- Berikan klarifikasi kepada orang yang menerima informasi tersebut.
- Hindari membagikan ulang konten yang belum terverifikasi.
- Laporkan konten yang berpotensi membahayakan jika platform menyediakan fitur tersebut.
Kebiasaan mengoreksi informasi juga membantu mengurangi penyebaran klaim yang tidak benar.
Peran Literasi Kesehatan di Tengah Banjir Informasi
Literasi kesehatan bukan sekadar kemampuan membaca informasi tentang penyakit.
Kemampuan tersebut juga mencakup cara memahami risiko, menilai sumber, mencari informasi yang relevan, dan mengambil keputusan secara tepat.
WHO menempatkan penguatan ketahanan terhadap misinformasi dan peningkatan kemampuan digital serta literasi kesehatan sebagai bagian penting dalam menghadapi infodemic.
Biasakan Berhenti Sebelum Membagikan
Satu kebiasaan sederhana dapat memberikan perbedaan besar: jangan langsung membagikan informasi kesehatan yang mengejutkan.
Berhenti sebentar dan tanyakan:
- Siapa sumber informasinya?
- Apa bukti yang mendukung klaim tersebut?
- Kapan informasi itu dibuat?
- Apakah sumber lain memberikan penjelasan serupa?
- Apakah informasi tersebut mencoba menjual sesuatu?
- Apakah judulnya sesuai dengan isi?
Jika jawabannya belum jelas, lebih baik tahan informasi tersebut.
AI Juga Membutuhkan Pemeriksaan Fakta
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan membuat pembuatan teks, gambar, dan video semakin mudah.
Teknologi tersebut dapat membantu edukasi kesehatan. Namun, pengguna tetap perlu memeriksa informasi yang dihasilkan.
WHO sendiri menggunakan pendekatan berbasis data dan teknologi untuk memantau percakapan kesehatan serta mengenali narasi yang berkembang.
Artinya, teknologi dapat membantu proses pencarian informasi. Namun, teknologi tidak menggantikan kebutuhan untuk memeriksa sumber dan bukti.
Sumber umum seperti Wikipedia dapat digunakan sebagai titik awal untuk memahami suatu topik. Namun, untuk keputusan kesehatan, gunakan pula sumber medis dan institusi kesehatan yang kredibel.
Cara Membantu Keluarga Terhindar dari Hoaks Kesehatan
Kewaspadaan tidak hanya perlu dilakukan secara pribadi. Kita juga dapat membantu keluarga dan orang terdekat.
Misalnya, ketika menerima pesan kesehatan yang meragukan, jangan langsung menyalahkan orang yang mengirimkannya.
Tanyakan sumbernya dengan cara yang sopan. Kemudian, cari penjelasan dari sumber yang lebih kredibel.
Cara tersebut dapat membuka ruang diskusi tanpa membuat orang merasa diserang.
Ajarkan Kebiasaan Sederhana
Orang tua, anak, dan anggota keluarga lain dapat belajar menggunakan aturan sederhana:
Berhenti → Periksa → Bandingkan → Baru Bagikan.
Kebiasaan tersebut dapat diterapkan pada pesan WhatsApp, video TikTok, unggahan Instagram, maupun konten dari platform lainnya.
Hoaks Kesehatan Makin Banyak, Masyarakat Perlu Lebih Kritis
Hoaks Kesehatan Makin Banyak menjadi tantangan ketika informasi digital terus berkembang. Masyarakat tidak harus menghindari semua informasi kesehatan di internet. Sebaliknya, kita perlu membangun kebiasaan untuk memeriksa sumber dan memahami konteks.
Informasi yang menarik belum tentu benar. Jumlah tayangan juga tidak membuktikan kebenaran sebuah klaim.
Oleh karena itu, berhentilah sejenak sebelum mempercayai atau membagikan informasi kesehatan. Cari sumber yang kredibel, bandingkan penjelasan, dan konsultasikan kondisi kesehatan kepada tenaga medis jika membutuhkan keputusan atau penanganan.
Dengan kebiasaan tersebut, kita dapat membantu mengurangi penyebaran informasi keliru sekaligus menjaga keputusan kesehatan tetap berdasarkan informasi yang lebih dapat dipercaya.

